Yusuf Blog News :
Home » » Membangun Etos Kerja menurut Islam

Membangun Etos Kerja menurut Islam

Written By INSPIRASI on Friday, August 24, 2012 | 5:42 PM


Bismillahirrahmanirrahim. Siapapun yang mengkaji Islam dengan menggunakan kecerdasanya dan kejernihan hatinya akan menyimpulkan bahwa Islam merupakan agama professional. Rahasianya adalah ajaran Islam tidak hanya sekedar rutinitas ritual melainkan juga sebagai ideologi, dimana seluruh aspek kehidupan merupakan sebuah sistem utuh yang telah diciptakan oleh Dzat Maha Sempurna yakni Allah Swt. Dan, dalam realitasnya juga bisa dimengerti bahwa sistem Islam tersebut sesuai dengan fitrah manusia, dapat memuaskan akal dan menenangkan hati.


                Demikian halnya, terhadap persoalan perilaku (behavior), yang secara khusus menyangkut produktivitas hidup dan kerja, Islam demikian memberikan panduan dan bimbingan yang luar biasa. Hanya orang yang tidak mempelajari Islam atau orang yang tidak menyukai duluan dengan Islam mereka sudah antipati denganya. Seakan Islam merupakan agama nenek moyang yang tidak memiliki sistem sebagaimana gambaran orang-orang yang buta dengan Islam. Padahal jika dipelajari maka dalam konteks ini, Islam demikian mengatur terhadap persoalan kerja, kinerja dan sebagainya.


                Pertama tama, Islam mengajarkan bahwa kerja merupakan bagian dari aktivitas ibadah. Bekerja tidak hanya sekedar untuk mendapatkan penghasilan rizki namun juga bernilai plus yakni sejak dari starting berupa niat dan proses, maka argo sudah berjalan dalam bentuk pahala. Dalam hal ini teringat firman Allah Swt dalam Al Qur’an surat Adz Dzariat, 51 ayat 56 yang artinya : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. Dari ayat tersebut saja sudah bisa difahami bahwa jika suatu pekerjaan disebut merupakan bagian  dari ibadah maka barang siapa melakukanya maka akan mendapatkan pahala.


                Tentu saja dari sekecil apapun suatu pekerjaan jika diniatkan untuk beribadah mencari karunia dari Allah Swt maka mereka akan mendapatkan pahala. Subhanallah! Allahu Akbar! Dengan demikian, Islam memberikan motivasi yang luar biasa bagi ummatnya untuk berprestasi. Islam, dengan banyak hadits memberikan pujian dan penghargaan yang sangat besar bagi kaum muslim yang menjadi pekerja keras. Bahkan dikatakan oleh Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh imam Baihaqi bahwa : “Tidakkah seorang diantara kamu makan suatu makanan lebih baik daripada memakan dari keringatnya sendiri”. Dari hadits ini saja dapat difahami bahwa ajaran Islam sudah wanti-wanti agar ummatnya sungguh-sungguh bekerja secara aktif dan tidak menggantungkan orang lain. Bahkan menyambung dengan konsepsi Islam lainya bahwa Rasulullah Saw bersabda “al yadul ‘ulya khairun minal yadissufla--tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah”. Artinya kinerja seorang muslim adalah aktif bukan pasif.


                Dengan kabar gembira Islam tersebut seharusnya kaum muslimin terus memecut atau mencambuk dirinya dengan karya-karya prestasi yang tiada henti. Dimana dengan semakin banyak suatu karya yang bermakna ibadah maka akan semakin banyak pahalanya. Dalam kaidah ushul fiqih dikatakan “man kana aktsaru fi’lan kana aktsaru fadzlan—barang siapa yang semakin banyak melakukan perbuatan kebaikan maka akan semakin banyak mendapatkan pahala”. Dengan demikian, sejatinya Islam senantiasa mendorong kaum muslimin untuk aktif, kreatif dan produktif serta beretos kerja optimal. Bukankah Rasulullah Saw membenci orang-orang yang bermental pemalas dengan doanya : “Allahumma inni a’udzubika minal kasali wal ‘ajzi…--Ya Allah sesungguhnya aku minta perlindungan kepada-Mu dari sifat orang-orang yang malas dan lemah…”. Bahkan dalam suatu riwayat, Khalifah Umar Bin Khathab pernah mengusir sekumpulan pemuda yang hanya duduk di masjid agar mereka segera keluar menyebar mencari karunia Allah Swt.


                Disamping kewajiban bekerja akan mendapatkan pahala, juga Allah Swt menjanjikan akan mengampuni dosa-dosanya kaum muslimin. Dalam hal ini terdapat hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad sebagai berikut : “Barangsiapa yang pada malam hari merasakan kelelahan dari upaya keterampilan kedua tanganya pada siang hari maka pada malam itu ia diampuni”. Demikian halnya terdapat hadits berikutnya yang diriayatkan oleh imam Abu Nu’aim bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda : “ Sesungguhnya diantara perbuatan dosa ada dosa yang tidak bisa terhapus (ditebus) oleh (pahala) shaum dan sholat. “Ditanyakan pada Beliau, Apakah yang dapat menghapuskanya, ya Rasulullah?” Jawab Rasul Saw: “Kesusahan (bekerja) dalam mencari nafkah kehidupan”.


                Hadits yang hampir sama diriwayatkan oleh Imam Thabrani bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda : “Sesungguhnya diantara perbuatan dosa ada dosa yang tidak bisa terhapus (ditebus) oleh (pahala) shalat, sedekah (zakat), ataupun haji, namun hanya dapat ditebus dengan kesusahan dalam mencari nafkah kehidupan”.


                Jadi betapa luar biasanya Islam memberikan semangat (motivasi) bahwa jika seorang musim berniat menjalankan kewajiban bekerja, maka disamping Insya Allah akan mendapatkan rizki, juga mendapatkan pahala serta dimaafkan dosa-dosanya yang tidak bisa terhapus oleh amalan sholat, shaum, shodaqah, dan haji.


                Dari sinilah kita bisa memahami, justru bekerja dengan etos kerja yang tinggi, bagi seorang muslim seharusnya perkara yang senang dan menyenangkan. Bukan perkara berat dan memberatkan yang membuat manusia stress dan depresi. Hal ini sangat menarik jika diperbandingkan dengan ajaran di luar Islam (baca: termasuk kapitalisme, liberalisme, dan sosialisme) yang justru menjadikan kerja sebagai sumber stress, depresi, bunuh diri, atau bahkan menjadi penyebab gonjang-ganjingnya dunia. Coba kita lihat contoh etos kerja negara Timur Jauh yakni Korea Selatan dan Jepang.  Korea Selatan (dengan 70% pegunungan), sejak merdeka tahun 1957 dan berpisah dengan Korea Utara, akhirnya kini menjadi Negara berpredikat ekonomi Macan Asia. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa di sana memiliki tingkat stress dan depresi sangat tinggi sebanding lurus dengan tuntutan pekerjaanya. Disana, mati karena kecapekan dan tendang menendang fisik antar karyawan bukan hal aneh namun sudah menjadi kultur. Demikian halnya di Jepang, negara mungil nan kaya—dengan ideologi duit, namun angka depresi dan bunuh diri demikian tinggi hinga mencapai 30.000 orang untuk setiap tahunya.


                Konsepsi etos kerja Islam tentu berbeda dengan lainya. Jika etos kerja masyarakat di luar Islam hanyalah mengejar materi semata, namun etos kerja dalam Islam merupakan sebuah produktivitas yang berbasis ibadah. Dengan demikian etos kerja Islam jika diterapkan akan mampu merubah dunia dalam arti yang demikian hakiki. Namun demikian, etos kerja dalam Islam hanya dapat dicapai secara optimal jika digerakkan oleh sistem Islam itu sendiri yakni dalam bentuk Negara yakni Daulah Khilafah Islamiyah. Hal ini bisa dibuktikan bahwa selama 12 abad lebih Islam dalam bingkai sistem Islam terbukti terjadi kemajuan di seluruh bidang kehidupan baik dalam hal ilmu pengetahuan, teknologi maupun kesejahteraan dan peradaban sosial. Namun kini, ketika masyarakat Islam tidak hidup dalam entitas sistem Islam maka yang terjadi adalah rendahnya etos kerja kaum muslimin hingga pada titik nadir! Hal ini disebabkan etos kerja Islam tidak bisa hidup sempurna dalam komunitas sistem selain Islam. Bagaikan ikan laut hanya hidup di laut, dan akan mati jika dipaksa hidup di darat!


                Allah Swt. sangat menyenangi kaum muslimin yang bekerja keras, bahkan Rasulullah Saw. mendoakan semoga ada keberkahan untuknya. Dalam hal ini terdapat hadits yang diriwayatkan oleh imam Ad Dailami bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Sesungguhnya, Allah Ta’ala senang melihat hamba-Nya bersusah payah dalam mencari rizki yang halal”. Dalam hadits lainya yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda: “Ya Allah! Berikanlah keberkahan kepada ummatku pada usaha yang dilakukanya pada pagi hari”. Luar biasa bukan! Bahkan, terdapat kisah dimana Rasulullah Saw pernah mencium tangan sahabatnya yang bernama Sa’ad bin Mu’adz yang berprofesi sebagai tukang kusen, tatkala melihat tanganya menebal penuh kapalan disebabkan kerja kerasnya. Sambil mencium tanganya Muadz, Beliau Rasulullah Saw bersabda : “(ini adalah) dua tangan yang dicintai Allah Ta’ala”.


                Saudaraku! Berdasarkan uraian tersebut di atas maka terfahamkanlah kita bahwa Islam betul-betul mengajarkan agar ummatnya senantiasa bermental baja dan beretos kerja optimal dalam melaksanakan suatu pekerjaan. Islam adalah ummat pekerja keras dan bukan bangsa yang pemalas. Kalalulah saat ini kaum muslimin menjadi bulan-bulanan dan permainan dunia sehingga banyak kaum muslimin yang dicap sebagai pemalas dsb maka sebenarnya persoalanya adalah saat ini Islam tidak diterapkan dalam bingkai sistemnya—melainkan dalam genggaman kapitalisme, liberalism dan sosialisme. Oleh karenanya, disamping kita harus berjuang demi kembalinya kemuliaan Islam dan kaum muslimin (‘izzul Islam wal muslimin), kita musti harus menjadi seorang muslim yang SMART – WORKERS menuju jalan Ridlo Allah Swt. Amin. Allahu Akbar! Wassalam. BAITUROKHIM.



Terima kasih untuk berkenan membaca isi blog ini, semoga dapat memberikan manfaat yang berarti bagi perkembangan dunia pendidikan kita. Atas segala kekurangannya saya menyampaikan permohonan maaf dan berkenan kiranya untuk meninggalkan komentar atas isi artikel ini. Salam Hormat untuk semuanya
Share this article :

0 comments:

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. INSPIRASI - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger